Begitu turun dari pesawat, bersin-bersin tak karuan dan flu tiba-tiba menyerang saya. Parahnya, sampai seharian penuh, saya bahkan nyaris tak bisa beranjak dari kamar hotel karena flu berat.
--Candle light dinner untuk malam Valentine’s Day saat itu yg sudah ditata cantik di sisi kolam renang hotel Hyatt Jogja itu pun terlewatkan olehku. Aku hanya bisa menatap sedih dari jendela di lantai tempat kamarku berada. Hiks..--
Karena tak kunjung sembuh, oleh seorang teman, aku kemudian dibawa ke RS Panti Rapih. Oleh dokter yg menangani saat itu [dokter Joko], aku divonis terserang Toxo, Rubella, dan CMV. IgM-ku untuk ketiganya: Positive!
Menurut dokter, IgM positive itu menandakan saat itu aku positive terserang virus ybs, sementara IgG negative mengindikasikan aku belum pernah terserang sebelumnya. Jadi, IgG untuk masa sebelumnya/lalu dan IgM untuk masa sekarang. Aku sudah lupa berapa banyak IgM-ku saat itu. Yang pasti, virus itu benar2 menyerang system kekebalan tubuhku hingga seakut saat itu.
Setelah aku perhatikan, memang benar apa kata dokter. Tanda-tanda yg [belakangan baru aku sadari] muncul adalah:
1. Aku mudah lelah, terutama di bagian pundak dan punggung. Untuk ini, aku bahkan bisa setiap hari minta diurut, baru bisa tidur setelahnya.
2. Jika sedang terserang flu dan batuk, aku bisa menderita hingga [maksimal] sebulan penuh. Dan polanya begitu terus hingga berulang-ulang: Bersin – Pusing - Flu – Radang Tengorokan – Demam – Batuk Kering – Batuk Dahak, setelahnya baru sembuh.
3. Selama satu tahun, aku bisa terserang flu-batuk sebanyak 4-5 kali. Jadi, ijin sakit dari kantor juga jadi numpuk.. (maaf yah, boss).
4. Mengerjakan sesuatu jadi tidak bisa konsentrasi.
Setelah positive divonis terserang Tokso, Rubella, dan CMV, aku pun jadi rajin mencari tahu soal penyakit ini. Menurut yg aku baca [maaf sumbernya dah lupa], virus2 dari penyakit ini berasal dari hewan2 seperti kucing, burung, anjing. Bisa juga disebabkan oleh memakan sayuran/buah yg tidak begitu bersih dicuci sebelum dimakan. Menilik penyebab2 tersebut, aku berani menjamin bahwa kucing dan anjing bukan penyebabnya. Aku paling takut sama yg namanya kucing dan anjing. Tapi.. bisa jadi kebiasaan almarhum bapak memelihara burung beo, perkutut, cecak rowo, dll adalah penyebabnya.
Tapi kenapa hanya aku? Sementara adik2 dan anggota keluarga yg lainnya [Alhamdulillah] tidak terjangkiti?
Kalau dg alasan kegemaranku makan buah segar dan sayuran mentah, mungkin bisa aku benarkan. Sejauh ini jika buah dan sayur mentah itu aku yg siapkan, bisa aku jamin bersih. Tapi, ceritanya bakal lain jika aku mungkin melahap sayur dan buah itu di warung2 pinggir jalan. Kualitas air yg digunakan, tingkat higienitasnya belum bisa aku jamin.
Singkat cerita, si dokter memberiku Valtrex (sejenis anti virus). “Harga obat ini lumayan mahal. Jadi saya hanya memberi 10 butir obat” ujar sang dokter. Begitu menebusnya di konter obat, aku hanya bisa mengeryitkan kening: “20 ribu per butir”. [mungkin dokter mengiraku mahasiswa yg masih menunggu kiriman dari orangtua, makanya sudah diwanti2 duluan. Hehehe..]
Apa dg Valtrex itu membantu? Menyembuhkan total sih tidak, tapi setidaknya flu berhenti lebih cepat: 6 hari!
Akibat yg dibawa oleh virus2 ini sangat menakutkan. Mulai dari kegagalan kehamilan/keguguran, kebutaan, pertumbuhan janin yg cacat, bahkan kematian!
Takut? Sebagai perempuan, itu momok buatku!
Iseng men-googling ttg penyakit dan virus2 ini, aku akhirnya bergabung di sebuah milist yg kelak menghantarku untuk lebih memilih pengobatan alternative. Saat itu, tak satupun informasi yg tersedia menyakinkanku bahwa pengobatan modern bisa menyembuhkan virus TORCH.
Satu kawan akhirnya berbagi pengalaman dan menyarankanku untuk mencoba pengobatan alternative kepada seorang dokter.
Beliau dikenal dg nama dokter Juanda. Saat itu beliau hanya buka praktik di kediaman beliau di Bogor. Demi untuk sembuh, aku nekad minta ijin pada boss untuk berangkat ke Bogor dan akhirnya ‘memaksa’ seorang teman untuk mengantarku ke sana.
Selain berprofesi sebagai seorang dokter, dr. Juanda juga menggunakan pendekatan agama untuk pengobatan. Selain memberiku ramuan obat khusus (berbentuk cairan), beliau juga menyarankanku menjalani beberapa amalan seperti sholat dan do’a2 tertentu.
Obat yg diberikan berbentuk cairan yg dikemas dalam sebuah botol ukuran 1500ML (seperti botol Aqua), berwarna abu-abu keruh, dan jika diminum segelas harus disertakan dg satu sendok madu. Mencium bau cairannya saja (buat sebagian orang) bisa membuat mual. Tapi, demi sembuh.. aku rela meminumnya senikmat meminum teh (lebay!). “Masa pengobatan 3-6 bulan” itu kata beliau.
Dari hasil ditahan oleh petugas di Soekarno-Hatta, aku bisa tahu bahwa cairan obat yg aku bawa itu adalah ekstrak buah Pace atau yg dikenal sebagai buah Mengkudu. Waktu itu belum ada bayangan seperti apa bentuk buah tersebut.
Karena tak mengandung pengawet, si obat harus disimpan di dalam kulkas, dan bertahan hanya hingga dua minggu. Harga per botol (saat itu) adalah 500rb, dan aku hanya punya 2 botol. Sisanya 2 botol lagi aku pesan untuk dikirim. Belakangan obat ini telat datang 1 bulan (tau sendiri kan kinerja pos kita? Apalagi aku tinggal di tempat yg menurut sebagian orang kota adalah ‘pedalaman’).
Sebenarnya aku sudah complain ke bagian pengiriman dan mereka bersedia mengirim lagi 2 botol yg baru. Tapi aku malas mengurus semuanya, jadi kemudian memutuskan untuk menghentikan pengobatan. Jadi semuanya hanya berjalan 1 bulan.
Tahun 2003 di kehamilan pertama, aku mengalami keguguran. Iseng memeriksa TORCH-ku, dokter bilang IgM-ku negative dan IgG positive. Artinya aku ada riwayat terkena virus tsb dan sekarang sudah sembuh. Jadi… “SUDAH BOLEH HAMIL” itu yg ditulis dokter Sri Widanto di rekam medik milikku.
Setiap kali keguguran, aku selalu minta test lab untuk anti-virus ini. Dan Alhamdulillah selalu negative. Seperti hari ini.. Aku kembali deg-degan menunggu hasil test lab untuk TORCH-ku. Alhamdulillah hasilnya negative. Hanya saja, dokter kandungan yg kutemui kali ini juga menyarankan untuk mengikuti test lab untuk mengukur Asam Folat dalam darahku. Karena aku lupa berpuasa, test untuk Asam Folatnya ditunda besok dan butuh waktu seminggu untuk mendapatkan hasilnya.
Selain TORCH dan Asam Folat, beliau merekomendasikan juga test lab untuk HSV1, HSV2, dan Homocysteine. Nah tiga yg terakhir ini aku masih bertanya-tanya, jenis apakah dan bagaimana pendeskripsian mereka? Mengingat untuk hasil ketiganya, aku harus menunggu [lagi] sampai besok.
Aku bersyukur, Allah telah menunjukkan jalan untukku bisa sembuh. Pelajaran terpentingnya adalah, jika kita berusaha dan selalu berdo’a, Insya Allah, semuanya pasti ada solusinya.
Walau sudah tak berobat lagi ke beliau, aku mengikuti perkembangan penyebaran praktik dokter Juanda yg aku tahu akhirnya sekarang buka cabang di Jogja juga. Dan aku surprised juga ternyata ada ribuan perempuan di luar sana yg mengalami hal yg sama dg aku. I am not alone!
Cumaaaaa [namanya Yanti yah!!!] sekarang.. lagi berharap2 cemas, semoga semuanya baik2 saja. Semoga Allah SWT selalu melindungiku dg kesehatan. Apa yg menjadi rencana kami selama ini bisa berjalan lancar, seperti yg kami harapkan. Amiin.









