Words Today

"Rasa dengki membunuh kesederhanaan hati. Tumbuhkan dukungan, bukan sebaliknya.."

Friday, July 3, 2009

Berbagi Pengalaman Tentang TORCH

Tahun 2001, saya yg bermaksud melewati liburan ke Jogja akhirnya harus menelan sedikit kekecewaan.

Begitu turun dari pesawat, bersin-bersin tak karuan dan flu tiba-tiba menyerang saya. Parahnya, sampai seharian penuh, saya bahkan nyaris tak bisa beranjak dari kamar hotel karena flu berat.

--Candle light dinner untuk malam Valentine’s Day saat itu yg sudah ditata cantik di sisi kolam renang hotel Hyatt Jogja itu pun terlewatkan olehku. Aku hanya bisa menatap sedih dari jendela di lantai tempat kamarku berada. Hiks..--

Karena tak kunjung sembuh, oleh seorang teman, aku kemudian dibawa ke RS Panti Rapih. Oleh dokter yg menangani saat itu [dokter Joko], aku divonis terserang Toxo, Rubella, dan CMV. IgM-ku untuk ketiganya: Positive!

Menurut dokter, IgM positive itu menandakan saat itu aku positive terserang virus ybs, sementara IgG negative mengindikasikan aku belum pernah terserang sebelumnya. Jadi, IgG untuk masa sebelumnya/lalu dan IgM untuk masa sekarang. Aku sudah lupa berapa banyak IgM-ku saat itu. Yang pasti, virus itu benar2 menyerang system kekebalan tubuhku hingga seakut saat itu.

Setelah aku perhatikan, memang benar apa kata dokter. Tanda-tanda yg [belakangan baru aku sadari] muncul adalah:
1. Aku mudah lelah, terutama di bagian pundak dan punggung. Untuk ini, aku bahkan bisa setiap hari minta diurut, baru bisa tidur setelahnya.
2. Jika sedang terserang flu dan batuk, aku bisa menderita hingga [maksimal] sebulan penuh. Dan polanya begitu terus hingga berulang-ulang: Bersin – Pusing - Flu – Radang Tengorokan – Demam – Batuk Kering – Batuk Dahak, setelahnya baru sembuh.
3. Selama satu tahun, aku bisa terserang flu-batuk sebanyak 4-5 kali. Jadi, ijin sakit dari kantor juga jadi numpuk.. (maaf yah, boss).
4. Mengerjakan sesuatu jadi tidak bisa konsentrasi.

Setelah positive divonis terserang Tokso, Rubella, dan CMV, aku pun jadi rajin mencari tahu soal penyakit ini. Menurut yg aku baca [maaf sumbernya dah lupa], virus2 dari penyakit ini berasal dari hewan2 seperti kucing, burung, anjing. Bisa juga disebabkan oleh memakan sayuran/buah yg tidak begitu bersih dicuci sebelum dimakan. Menilik penyebab2 tersebut, aku berani menjamin bahwa kucing dan anjing bukan penyebabnya. Aku paling takut sama yg namanya kucing dan anjing. Tapi.. bisa jadi kebiasaan almarhum bapak memelihara burung beo, perkutut, cecak rowo, dll adalah penyebabnya.

Tapi kenapa hanya aku? Sementara adik2 dan anggota keluarga yg lainnya [Alhamdulillah] tidak terjangkiti?

Kalau dg alasan kegemaranku makan buah segar dan sayuran mentah, mungkin bisa aku benarkan. Sejauh ini jika buah dan sayur mentah itu aku yg siapkan, bisa aku jamin bersih. Tapi, ceritanya bakal lain jika aku mungkin melahap sayur dan buah itu di warung2 pinggir jalan. Kualitas air yg digunakan, tingkat higienitasnya belum bisa aku jamin.

Singkat cerita, si dokter memberiku Valtrex (sejenis anti virus). “Harga obat ini lumayan mahal. Jadi saya hanya memberi 10 butir obat” ujar sang dokter. Begitu menebusnya di konter obat, aku hanya bisa mengeryitkan kening: “20 ribu per butir”. [mungkin dokter mengiraku mahasiswa yg masih menunggu kiriman dari orangtua, makanya sudah diwanti2 duluan. Hehehe..]

Apa dg Valtrex itu membantu? Menyembuhkan total sih tidak, tapi setidaknya flu berhenti lebih cepat: 6 hari!

Akibat yg dibawa oleh virus2 ini sangat menakutkan. Mulai dari kegagalan kehamilan/keguguran, kebutaan, pertumbuhan janin yg cacat, bahkan kematian!

Takut? Sebagai perempuan, itu momok buatku!

Iseng men-googling ttg penyakit dan virus2 ini, aku akhirnya bergabung di sebuah milist yg kelak menghantarku untuk lebih memilih pengobatan alternative. Saat itu, tak satupun informasi yg tersedia menyakinkanku bahwa pengobatan modern bisa menyembuhkan virus TORCH.

Satu kawan akhirnya berbagi pengalaman dan menyarankanku untuk mencoba pengobatan alternative kepada seorang dokter.

Beliau dikenal dg nama dokter Juanda. Saat itu beliau hanya buka praktik di kediaman beliau di Bogor. Demi untuk sembuh, aku nekad minta ijin pada boss untuk berangkat ke Bogor dan akhirnya ‘memaksa’ seorang teman untuk mengantarku ke sana.

Selain berprofesi sebagai seorang dokter, dr. Juanda juga menggunakan pendekatan agama untuk pengobatan. Selain memberiku ramuan obat khusus (berbentuk cairan), beliau juga menyarankanku menjalani beberapa amalan seperti sholat dan do’a2 tertentu.

Obat yg diberikan berbentuk cairan yg dikemas dalam sebuah botol ukuran 1500ML (seperti botol Aqua), berwarna abu-abu keruh, dan jika diminum segelas harus disertakan dg satu sendok madu. Mencium bau cairannya saja (buat sebagian orang) bisa membuat mual. Tapi, demi sembuh.. aku rela meminumnya senikmat meminum teh (lebay!). “Masa pengobatan 3-6 bulan” itu kata beliau.

Dari hasil ditahan oleh petugas di Soekarno-Hatta, aku bisa tahu bahwa cairan obat yg aku bawa itu adalah ekstrak buah Pace atau yg dikenal sebagai buah Mengkudu. Waktu itu belum ada bayangan seperti apa bentuk buah tersebut.

Karena tak mengandung pengawet, si obat harus disimpan di dalam kulkas, dan bertahan hanya hingga dua minggu. Harga per botol (saat itu) adalah 500rb, dan aku hanya punya 2 botol. Sisanya 2 botol lagi aku pesan untuk dikirim. Belakangan obat ini telat datang 1 bulan (tau sendiri kan kinerja pos kita? Apalagi aku tinggal di tempat yg menurut sebagian orang kota adalah ‘pedalaman’).

Sebenarnya aku sudah complain ke bagian pengiriman dan mereka bersedia mengirim lagi 2 botol yg baru. Tapi aku malas mengurus semuanya, jadi kemudian memutuskan untuk menghentikan pengobatan. Jadi semuanya hanya berjalan 1 bulan.

Tahun 2003 di kehamilan pertama, aku mengalami keguguran. Iseng memeriksa TORCH-ku, dokter bilang IgM-ku negative dan IgG positive. Artinya aku ada riwayat terkena virus tsb dan sekarang sudah sembuh. Jadi… “SUDAH BOLEH HAMIL” itu yg ditulis dokter Sri Widanto di rekam medik milikku.

Setiap kali keguguran, aku selalu minta test lab untuk anti-virus ini. Dan Alhamdulillah selalu negative. Seperti hari ini.. Aku kembali deg-degan menunggu hasil test lab untuk TORCH-ku. Alhamdulillah hasilnya negative. Hanya saja, dokter kandungan yg kutemui kali ini juga menyarankan untuk mengikuti test lab untuk mengukur Asam Folat dalam darahku. Karena aku lupa berpuasa, test untuk Asam Folatnya ditunda besok dan butuh waktu seminggu untuk mendapatkan hasilnya.

Selain TORCH dan Asam Folat, beliau merekomendasikan juga test lab untuk HSV1, HSV2, dan Homocysteine. Nah tiga yg terakhir ini aku masih bertanya-tanya, jenis apakah dan bagaimana pendeskripsian mereka? Mengingat untuk hasil ketiganya, aku harus menunggu [lagi] sampai besok.

Aku bersyukur, Allah telah menunjukkan jalan untukku bisa sembuh. Pelajaran terpentingnya adalah, jika kita berusaha dan selalu berdo’a, Insya Allah, semuanya pasti ada solusinya.

Walau sudah tak berobat lagi ke beliau, aku mengikuti perkembangan penyebaran praktik dokter Juanda yg aku tahu akhirnya sekarang buka cabang di Jogja juga. Dan aku surprised juga ternyata ada ribuan perempuan di luar sana yg mengalami hal yg sama dg aku. I am not alone!

Cumaaaaa [namanya Yanti yah!!!] sekarang.. lagi berharap2 cemas, semoga semuanya baik2 saja. Semoga Allah SWT selalu melindungiku dg kesehatan. Apa yg menjadi rencana kami selama ini bisa berjalan lancar, seperti yg kami harapkan. Amiin.

Monday, May 25, 2009

Akhir Catatan Perjalanan Studi Program Masterku di Norway

SELESAI SUDAH.

Hanya itu yang bisa aku katakan soal perjalanan studi program masterku di Universitetet i Agder Norway. Bahagia? Tentu! Bisa menggondol ijasah S2 begini sudah impianku sejak dulu :) Apalagi ditambah dg perjalanan karir studi yg jatuh-bangun, susah-senang, dan dipenuhi tangis, tawa, canda, serta banyak aral-melintang. Tapi.. entah, I am feeling half-hearted to leave Kristiansand too :(

Sambil packing, air mataku tak hentinya mengucur..
Beberapa hari ini, ada 5 kelompok teman-teman yang sudah membuatkanku farewell dinner. Semuanya adalah teman-teman dekat yg menjadi keluargaku selama di sini. Menemani hari-hari perjuanganku dan mengisinya dg hal-hal yg luar biasa untukku. Aaah, aku akan sangat merindukan mereka :(

Memang.. ada sejuta kenangan yg sulit aku lupakan di kota nan cantik dan negeri nan indah ini. Bunga, hangatnya sinar matahari di musim panas, musim dingin dan saljunya, makanannya, teman-temanku, kampus ini, dosen-dosenku, pantainya, fjord, langitnya, bunga-bunga, sungai otra, jalan-jalannya, burung2 di pepohonan yg selalu menyapaku di setiap pagi di musim semi.. Jeg elsker dette landet! Aku begitu cinta dg negeri ini! Dan selang dua hari lagi, aku harus meninggalkannya.. :(

Diam-diam aku berdo'a dalam hati
"Tuhan, ijinkan aku tuk kembali lagi suatu hari nanti ke negeri ini.."

Saturday, May 16, 2009

Kemenangan Alexander Ribak, hadiah untuk Hari Konstitusi Norway

Sejak dari awal melihat penampilan Alexander Ribak di ajang seleksi menuju Eurovision Song Contest 2009 di Moskow, memang sudah membuatku jatuh hati. Selain permainan Violin-nya yg indah, syair lagunya juga memang sangat indah. FAIRY TALE, yang menceritakan kisah cinta sejak remaja dan sempat terputus itu, memang benar2 indah. Mendengarkannya saja pasti akan mengingatkan anda pada cinta pertama anda :)

Tepat jam 00 LT, kemenangan Ribak mengukuhkan Norway sebagai the best country pada ajang bergengsi yg dulu pernah menelurkan ABBA (Swedia) ini. Mengantongi point 387, Ribak menang telak dengan selisih 100s point terhadap pemenang kedua (Islandia) dan ketiga (Azerbaijan).

Dan kemenangan ini, tampaknya menjadi hadiah berharga buat Norway yang pada hari ini, tepat 17 Mei, merayakan hari konstitusi (Grunnlovsdagen).

Suara gaduh dari siaran langsung di SVT1 (saluran TV Swedia) di kamar saya menggema, tapi gegap gempita suara para gadis2 di komplek asrama mahasiswa UiA jauuuuuuuh lebih heboh. Dasar remaja!

Ikutan happy? Iya donk! Saya juga tau diri. Kan dah dua tahun dibiayai sekolah dan keliling dunia oleh negara yg menjadi rumah kedua bagi saya ini ;)

So, gratulerer, Ribak! gratulerer med dagen, Norway! Hurra for syttende mai!!!

Tuesday, May 5, 2009

Tjue Ti, Twenty Ten, Duapuluh Sepuluh


Ketika kecil, aku suka bertanya kepada Mama, bagaimana kisah saat aku dilahirkan.

“Tengah adzan Subuh dan beranjak mengambil air wudhu, kamu lahir.. Jadi, sholatnya gak kesampaian. Trus, karena kamu anak pertama, banyak yang datang membantu proses kelahiranmu”

Namanya juga di kampung. Saat itu belum ada bidan, jadinya proses kelahiranku dibantu oleh seorang dukun beranak.

Terakhir ke Sulawesi tahun lalu, aku masih sempat bertemu dg si Nenek dukun beranak ini (dalam bahasa Bugis, kami menyebutnya “Sandro” yg berarti dukun). Sudah sepuh banget, tak bisa melihat dg jelas dan sudah tak lagi sanggup berdiri. Beliau memanggilku dan meraba wajah dan membelai rambutku sambil juga menyuruhku menangkupkan kedua tanganku di wajahnya.. “Wah, kamu sudah besar sekarang” itu komentarnya dalam bahasa Bugis.

“Besar? Mungkin maksud Nenek, aku gendut? Iya Nek, aku memang gendut” selorohku dalam bahasa Bugis juga..

“Dari kecil kamu memang gendut kan?” jawab si Nenek terkekeh..

---

Cerita soal aku dulu dan sekarang.

Ketika kecil, aku memang kerap berkhayal

Seperti apakah aku saat dewasa nanti? Dan yang paling sering aku ingat adalah pertanyaan pada diriku:

Bagaimana wajah dan penampilanku saat usia 30?

Entah mengapa, selain tahun 2000, usia 30 selalu merasuki pikiranku sejak kecil..

Apa karena aku suka dg angka genap itu? Bisa jadi. Atau ada alasan lain? Entahlah.. belum terjawab pasti sejauh ini.

Yang pasti, aku sudah tahu kalau aku akan selalu gendut seperti sejak aku kanak-kanak. Terus, punya segudang teman baik, dan yang menyakitkan adalah masih belum bisa menghilangkan sifat keras kepala

Yang kejutan untukku di tepat usia 30:

Sudah hampir 6 tahun, aku menjadi istri seorang pria aneh yg mau saja menerimaku yg cengeng ini

So far belum ada wrinkles seperti yg selalu aku bayangkan waktu kecil setiap melihat nenekku (Hey, that’s why scientists invented anti-aging!). Kejutan lain adalah: aku masih (makin?) centil, suka dandan ( tanda2 puber kedua?) dan.. aku sedang berusaha menyelesaikan sekolah master (yg sebelumnya tak pernah kubayangkan.. bahkan mimpi pun aku tak berani..) di negeri nan jauuuuh..

Tepat di 30 ini..

Aku berusaha merenung..

Betapa banyak Tuhan telah mengabulkan apa yg selalu aku pinta

Tapi, sudahkah aku bersyukur dan menunjukkan sayangku pada Tuhan? Kupikir belum sepenuhnya

Di tepat 30 ini..

Aku ingin:

1) (rahasia)

2) (rahasia)

3) … (rahasia)

See? Lagi-lagi aku minta pada Tuhan..

Oh, iya..

Mungkin ada satu hal lagi yang aku nyaris lupa

Mau menelfon Mama dan bilang terimakasih karena telah

melahirkan dan membesarkanku..

"Ma, sekarang aku 30. Eh.. oh, 20+10"